-->

Kamis, 05 Mei 2011

Ruko Remang-Remang di Jalan Poros Kota

Kamis, 05 Mei 2011
Salam Satu Jiwa!!!
Di satu malam saya melewati sebuah jalan. Jalannya ramai. Lalu-lalang kendaraan luar biasa ramainya. Karena itu jalan poros dilalui pete-pete. Di sepanjang jalan ada banyak gadis yang melintas. Tidak satu pun kukenali malam itu. Hanya saja sedikit tertegun ketika melewati satu ruas jalan beberapa kilometer dari jalan semula.

Di sebuah warung yang kutebak inilah yang dinamakan warung remang-remang oleh orang terdahulu. Di warung tersebut lampu tidak dinyalakan seterang di kamarku (padahal di kamarku sudah gelap sebenarnya). Di depan warung berjejer perempuan yang kupastikan para penjajah nikmat sesaat. Tanpa mengingat istri, si lelaki satu persatu ternyata singgah. Tapi aku tidak singgah (di malam itu).

Beberapa malam kemudian saya lewat di jalan yang sama. Kali ini saya singgah. Dari luar terlihat para lelaki memasuki warung kemudian keluar dan didampingi oleh seorang ibu-ibu yang badannya lebih besar dari badanku. Diajak beberapa lelaki itu memasuki sebuah ruko (rumah toko) yang lokasinya berada di samping warung. Yang membuka pintu beberapa wanita muda dengan pakaian yang terbuka hampir semua. Dada terlihat tiga setengah bagian dari satu dibagi empat. Pusar bukanlah jalan angin malam itu, karena terbuka luas. Paha beberapa gadis bukanlah barang mahal di tempat itu. Dan begitulah ceritanya tidak kulanjutkan.

Beberapa menit saya meninggalkan tempat itu. Sekedar bertanya dalam hati, "Ini warung remang-remang dapat ijin dari Pemda tidak, ya?!" Jajanannya laris manis tapi bayar pajak tidak, ya? "

Terus seandainya tidak bayar pajak, Mobil Polisi yang terdiam diparkir di seberang jalan tugasnya apa? "Sesuatu" yang diberikan ibu-ibu besar tadi itu apa? Itu saja. Sekedar bertanya lewat Blog.

--Sebuah peristiwa pukul 03.xx di suatu hari yang tidak libur--

____________________________________________________

Alangkah ranum buah di dadamu
Bergairah semua tatapan yang jatuh di atasnya
Meremas jilatan lidahnya mereka sendiri
Apa kau sadari itu?

Lenggokan ke kirimu jauh lebih seksi dari kananmu
Mengapa kau bagikan percuma itu ke mereka?
Bisa kau jual itu ke saudagar sana
Yang berjaya ketika menemukan seperti kamu
Itu jika Tuhanmu tidak menghukum, saranku

Muda kau wanita di malam itu
Di pelataran jalan kau menjajakan
Tapi tidak terjual
Sekedar kau pamer saja pertontonkan

Alangkah ranum sekali lagi,
Ingin kusinggahi sebenarnya
Sok menawar rencanaku
Padahal hanya ingin yang cuma-cuma
Semoga gombalanku ampuh sebentar itu

Begitulah ceritaku di malam kemarin
Ketika melewati sebuah pelataran
yang ditumbuhi buah yang dipamer...


______________________________________________

2 komentar:

Fahrie Sadah mengatakan...

Sungguh fenomena menyedihkan .. ^^

Anonim mengatakan...

..sebenarnya THM di Kota besar sudah jadi hal biasa, cuman saya baru lihat yang di sampingnya ada mobil patroli parkir... Huhuhui

Posting Komentar

Terima Kasih untuk kebaikan Anda memperhatikan Saya...