-->

Senin, 16 Mei 2011

Warna-warni Nasabah Bank [1]

Senin, 16 Mei 2011
Salam Satu Jiwa!!!
Hari ini adalah hari dimana saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang bolos kerja. Sebenarnya saya tidak merencanakan hal ini. Hanya saja melihat kondisi dan kesempatan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung dan itu dan itu artinya saya jadilah pembolos.

Sebagai tanda kasih sayang dan gombalan, serta bukti bahwa saya masih mengingat tempat kerja saya, maka di postingan ini saya akan bercerita tentang 3 (tiga) orang Debitur Bank yang sampai hari ini adalah paling berkesan menurutku. Sebenarnya ada banyak tapi merekalah 3 besar di urutan paling.

Perlu saya ingatkan bahwa ini bukan untuk mengolok, tapi ini adalah pengalaman.

1. Debitur yang pura-pura gila
Suatu ketika seorang Tukang Kredit mendatangi seorang calon Nasabah (CalNas). Dalam proses wawancara, Si Kreditur menanyakan tentang keluarga si CalNas. Awalnya hanya bertanya nama orang tuanya. Dijawab dengan mulus. Seandainya saja Si CalNas lupa nama orangtuanya, maka si CalNas adalah anak durhaka. Betul?, anggaplah betul. Kemudian dilanjutkan ke pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk dilaporkan. Di beberapa pertanyaan si Kreditur terlihat senyum dan sedeikit mengolok.

Beberapa saat kemudian, si Kreditur bertanya lagi setelah disuguhkan segelas teh hangat oleh seorang anak wanita. Masih muda kelihatannya.
"Anak ibu ada berapa?" ditanya untuk memancing karena sebenarnya di Kartu Keluarga hal itu sudah diketahui.
"Ada 3, dua wanita dan satu lelaki". Jawab si Ibu dengan mulus. Jujur dia seperti di Kartu keluarga.
"Anak yang tadi, anak Ibu, ya?" Tanya si Kreditur lagi.
"Iya!" jawab si Ibu singkat.
Si Tukang Kredit kemudian melihat Kartu keluarga si Ibu lagi, lalu bertanya :
"yang tadi (sambil mengisyaratkan wanita yang membawa teh), anak ibu juga?"
"Iya!" jawab si Ibu lagi.
"Itu anak ibu yang ke berapa?"
"Anak yang keempat". Jawab Si Ibu polos. Tanpa dia sadari, anaknya hanya tiga.

--sejak hari itu si Kreditur kemudian mencap bahwa sebagian orang akan melakukan apasaja untuk mendapatkan kredit--

2. Debitur yang Nikah Muda
Nikah Muda? apa hubungannya dengan kredit? Begitulah lucunya ketika harus mengingat kejadian hari itu.

Suatu hari seorang Nasabah lama mendatangi kantor sebuah Bank. Si Nasabah bermaksud mengajukan lagi kredit perpanjangan. Ditanya tentang suaminya, si Nasabah tiba-tiba bercerita tentang kehidupannya yang sangat pribadi. Si Nasabah masih muda. Usianya sekitar 24 tahun. Tapi suaminya sudah berusia kurang lebih 65 tahun dan duda pula waktu mereka baru menikah.

Si Ibu adalah "korban" pernikahan karena harta (begitu pengakuannya). Bapak dari si Nasabah memilih menikahkan Si Nasabah dengan lelaki yang anaknya saja sudah lebih tua dari Si Ibu. Itu karena Bapak dari Si Nasabah diimingi UANG yang banyak. Sampai di klimaks cerita, ketika si Nasabah bercerita tentang rencananya menceraikan suaminya ketika anaknya sudah besar, Si Nasabah ternyata menangis di hadapan si Kreditur. Ada-ada saja kehidupan ini. Jika dipikir, untuk apa bercerita sejauh itu, sampai menangis pula.


3. Debitur yang "Menyerahkan" Anaknya
Ini adalah kisah "terenak" ketika menjadi seorang TUKANG KREDIT. Diawali dari sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang berjumlah tiga orang, terjadilah kisah. Tiga ibu rumah tangga yang super-aktif dan saling berdampingan rumah bersama-sama melengkapi berkasnya untuk pengajuan kredit di sebuah Bank.

Tiba di sesi wawancara, kebetulan waktu itu Si Tukang Kredit bekerja Tim (berdua maksudnya). DI sesi wawancara massal ini, ternyata seorang Calon Nasabah yang ibu-ibu ini menaruh perhatian pada salah satu Tukang Kredit tadi. Dengan blak-blakan dan tanpa rasa canggung (baca : malu), Si Ibu mengutarakan "hasil" dari pandangan pertamanya.

Si Ibu salut karena si tukang Kredit masih muda. Sangat muda malah. Tapi karena sadar diri, akhirnya dengan girang si ibu "Menawarkan" anaknya yang juga masih muda. Masih kuliah anaknya. Saking girangnya, si Ibu mengeluarkan semua isi dompetnya untuk menemukan sebuah foto anaknya yang iya simpan di dompetnya. Dengan bangga si Ibu bercerita bahwa anaknya adalah seorang model. Ditemukanlah foto si Anak, dan ternyata itu adalah foto anaknya yang masih SMP. Dan lebih parahnya lagi, si Ibu bahkan memaksa si tukang Kredit untuk meng-add anaknya di facebook.

Liar betul kehidupan. Tapi begitulah nikmatnya.

--Bukan memanfaatkan situasi, tapi khan sayang kalau dilewatkan--
Anaknya ada disini. hahahai...


_____________________________________________________

4 komentar:

Ipul dg. Gassing mengatakan...

Hahahaha..
gaya tulisannya Syam sekali..
mantapp..!!

pemuja_rahasia_ungu mengatakan...

Terima Kasih Daeng!!!
Siapa dulu Masta Guru_nya... :D
--------------------------------
Terima Kasih!!!

aRuL mengatakan...

wahaha sampe dipajang juga FBnya si anak itu, cantik tawwa... silangsungangmi :D

pemuja_rahasia_ungu mengatakan...

..hahahai...
..Padahal anaknya belum tentu seagresif mamanya...
-----------------------------
Semoga saja tidak ada yg mengenal anaknya, biar saya aman dari timpukan... Amin! :D

Posting Komentar

Terima Kasih untuk kebaikan Anda memperhatikan Saya...