Salam Satu Jiwa!!!
Hari ini adalah hari dimana saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang bolos kerja. Sebenarnya saya tidak merencanakan hal ini. Hanya saja melihat kondisi dan kesempatan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung dan itu dan itu artinya saya jadilah pembolos.
Sebagai tanda kasih sayang dan gombalan, serta bukti bahwa saya masih mengingat tempat kerja saya, maka di postingan ini saya akan bercerita tentang 3 (tiga) orang Debitur Bank yang sampai hari ini adalah paling berkesan menurutku. Sebenarnya ada banyak tapi merekalah 3 besar di urutan paling.
Perlu saya ingatkan bahwa ini bukan untuk mengolok, tapi ini adalah pengalaman.
1. Debitur yang pura-pura gila
Suatu ketika seorang Tukang Kredit mendatangi seorang calon Nasabah (CalNas). Dalam proses wawancara, Si Kreditur menanyakan tentang keluarga si CalNas. Awalnya hanya bertanya nama orang tuanya. Dijawab dengan mulus. Seandainya saja Si CalNas lupa nama orangtuanya, maka si CalNas adalah anak durhaka. Betul?, anggaplah betul. Kemudian dilanjutkan ke pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk dilaporkan. Di beberapa pertanyaan si Kreditur terlihat senyum dan sedeikit mengolok.
Beberapa saat kemudian, si Kreditur bertanya lagi setelah disuguhkan segelas teh hangat oleh seorang anak wanita. Masih muda kelihatannya.
"Anak ibu ada berapa?" ditanya untuk memancing karena sebenarnya di Kartu Keluarga hal itu sudah diketahui.
"Ada 3, dua wanita dan satu lelaki". Jawab si Ibu dengan mulus. Jujur dia seperti di Kartu keluarga.
"Anak yang tadi, anak Ibu, ya?" Tanya si Kreditur lagi.
"Iya!" jawab si Ibu singkat.
Si Tukang Kredit kemudian melihat Kartu keluarga si Ibu lagi, lalu bertanya :
"yang tadi (sambil mengisyaratkan wanita yang membawa teh), anak ibu juga?"
"Iya!" jawab si Ibu lagi.
"Itu anak ibu yang ke berapa?"
"Anak yang keempat". Jawab Si Ibu polos. Tanpa dia sadari, anaknya hanya tiga.
--sejak hari itu si Kreditur kemudian mencap bahwa sebagian orang akan melakukan apasaja untuk mendapatkan kredit--
2. Debitur yang Nikah Muda
Nikah Muda? apa hubungannya dengan kredit? Begitulah lucunya ketika harus mengingat kejadian hari itu.
Suatu hari seorang Nasabah lama mendatangi kantor sebuah Bank. Si Nasabah bermaksud mengajukan lagi kredit perpanjangan. Ditanya tentang suaminya, si Nasabah tiba-tiba bercerita tentang kehidupannya yang sangat pribadi. Si Nasabah masih muda. Usianya sekitar 24 tahun. Tapi suaminya sudah berusia kurang lebih 65 tahun dan duda pula waktu mereka baru menikah.
Si Ibu adalah "korban" pernikahan karena harta (begitu pengakuannya). Bapak dari si Nasabah memilih menikahkan Si Nasabah dengan lelaki yang anaknya saja sudah lebih tua dari Si Ibu. Itu karena Bapak dari Si Nasabah diimingi UANG yang banyak. Sampai di klimaks cerita, ketika si Nasabah bercerita tentang rencananya menceraikan suaminya ketika anaknya sudah besar, Si Nasabah ternyata menangis di hadapan si Kreditur. Ada-ada saja kehidupan ini. Jika dipikir, untuk apa bercerita sejauh itu, sampai menangis pula.
3. Debitur yang "Menyerahkan" Anaknya
Ini adalah kisah "terenak" ketika menjadi seorang TUKANG KREDIT. Diawali dari sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang berjumlah tiga orang, terjadilah kisah. Tiga ibu rumah tangga yang super-aktif dan saling berdampingan rumah bersama-sama melengkapi berkasnya untuk pengajuan kredit di sebuah Bank.
Tiba di sesi wawancara, kebetulan waktu itu Si Tukang Kredit bekerja Tim (berdua maksudnya). DI sesi wawancara massal ini, ternyata seorang Calon Nasabah yang ibu-ibu ini menaruh perhatian pada salah satu Tukang Kredit tadi. Dengan blak-blakan dan tanpa rasa canggung (baca : malu), Si Ibu mengutarakan "hasil" dari pandangan pertamanya.
Si Ibu salut karena si tukang Kredit masih muda. Sangat muda malah. Tapi karena sadar diri, akhirnya dengan girang si ibu "Menawarkan" anaknya yang juga masih muda. Masih kuliah anaknya. Saking girangnya, si Ibu mengeluarkan semua isi dompetnya untuk menemukan sebuah foto anaknya yang iya simpan di dompetnya. Dengan bangga si Ibu bercerita bahwa anaknya adalah seorang model. Ditemukanlah foto si Anak, dan ternyata itu adalah foto anaknya yang masih SMP. Dan lebih parahnya lagi, si Ibu bahkan memaksa si tukang Kredit untuk meng-add anaknya di facebook.
Liar betul kehidupan. Tapi begitulah nikmatnya.
--Bukan memanfaatkan situasi, tapi khan sayang kalau dilewatkan--
Anaknya ada disini. hahahai...
_____________________________________________________
Tampilkan postingan dengan label Tukang Kredit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tukang Kredit. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Mei 2011
Sabtu, 30 April 2011
Mengangkat TV Lebih Berat daripada Mengangkat Rumah
Salam Satu Jiwa!!!
Kuawali postingan kedua malam ini dengan berdoa agar postingan ini bisa terposting (eh?) setelah tadi ada satu postingan yang --sebenarnya-- ide awalnya begitu luas tapi terselesaikan dengan begitu sempit dan kurang terpapar berkembang.
Menjadi seorang kolektor kredit harus diakui bukanlah satu hal yang mudah, gampang, dan ringan. Tapi profesi ini sudah lumayan lama dijalani oleh seseorang anak (yang sudah tua) yang tidak lain adalah saya.
Sedikit bercerita awal menjadi seorang Kolektor adalah ketika masih menjalani proses perkuliahan. Waktu itu saya adalah seorang mahasiswa yang juga bekerja sambilan di sebuah Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi ini beroperasi dengan memberikan pinjaman berupa uang kepada orang-orang yang "menginginkan".
Sepenuhnya saya bukanlah seorang kolektor di Koperasi tersebut. Saya hanyalah orang yang sesekali "dipakai" untuk "mengeksekusi" Nasabah koperasi jika tak ada Petugas yang siap pakai ketika dibutuhkan. Saat itu koperasi yang saya tempati bekerja menggunakan jasa Polisi dan Tentara, bahkan Polisi Militer sebagai Kolektor.
Beberapakali "menyegel" rumah yang dihuni "Nasabah Menunggak" bukanlah hal yang berat untuk saya waktu itu. Bahkan jika ada yang dengan lantang bermaksud menantang saya untuk "Adu Jotos", Saya terkadang balik menantang. Itu sudah tugas saya menurutku. Tidak terpikir jauh mengenai ajal waktu itu. :)
Terkadang saya juga harus membawa pulang motor Nasabah yang sudah tidak bisa menyelesaikan utang kreditnya. Mobil juga terkadang saya "bungkus" paksa dan kubawa pulang (dengan sopir bantu pastinya).
Kemudian setelah masa perkuliahan saya usaikan dan statusku bukan lagi seorang Mahasiswa, profesi menjadi seorang Kolektor ternyata berlanjut. Saya menjadi bagian dari salah satu BUMN yang dimimpikan banyak temanku. Sebenarnya masih tidak sepenuhnya seorang Kolektor, karena tidak sepadat ketika di Koperasi dulu. Dan masih tidak sepenuhnya Penetap di tempat itu.
Di tempat baru ini, saya semakin banyak menemukan warna-warni kehidupan manusia. Semakin sombong juga saya sekarang. Angkuhku juga semakin besar. Terkadang saya seakan mengangkat genggaman ketika harus berhadapan dengan seorang yang lebih angkuh terhadapku. Kusadari itu sebenarnya diluar kewajaran seorang saya yang dipekerjakan di tempat semegah itu.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya saya tiba di satu hari (kemarin) dimana saya harus betul-betul kembali menjadi seorang Kolektor. Kuuji sendiri nyaliku dalam hati. Eksekusi hari ini bukanlah eksekusi yang mudah menurutku. Eksekusi seperti ini tak pernah kubayangkan begitu berat untuk kulakukan. Memang belum pernah kulakukan.
Eksekusi ini harus memisahkan seorang anak dari salah satu kesenangannya. Eksekusi ini harus membuat seorang janda miskin kehilangan beberapa jam istirahatnya yang santai. Eksekusi kali ini harus menjauhkan satu keluarga dari kebiasaan berkumpul mereka ketika malam sudah tiba. Meskipun sebenarnya hanyalah kebiasaan yang benar-benar biasa.
Pekerjaan menyegel rumah dan membuat orangnya "malu" bukanlah hal yang sulit untukku. Karena orang-orang yang rumahnya kusegel bukanlah orang yang tidak memiliki uang, hanya saja mereka tidak peduli terhadap utangnya. Tapi ternyata, mengangkat sebuah televisi berukuran 21 inch dari dalam sebuah rumah yang sederhana ternyata lebih berat daripada mengangkat sebuah rumah megah yang tertuang dalam sebuah sertifikat. Satu hal sulit yang pernah kulakukan.
"Sebuah banyangan yang sulit kuhapuskan, sampai malam menuangnya dalam sebuah curahan-hati. Terbuka kumeminta maaf pada Ibu Hasniar yang Televisinya kubawa pulang"
_____________________________________________________
Kuawali postingan kedua malam ini dengan berdoa agar postingan ini bisa terposting (eh?) setelah tadi ada satu postingan yang --sebenarnya-- ide awalnya begitu luas tapi terselesaikan dengan begitu sempit dan kurang terpapar berkembang.
Menjadi seorang kolektor kredit harus diakui bukanlah satu hal yang mudah, gampang, dan ringan. Tapi profesi ini sudah lumayan lama dijalani oleh seseorang anak (yang sudah tua) yang tidak lain adalah saya.
Sedikit bercerita awal menjadi seorang Kolektor adalah ketika masih menjalani proses perkuliahan. Waktu itu saya adalah seorang mahasiswa yang juga bekerja sambilan di sebuah Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi ini beroperasi dengan memberikan pinjaman berupa uang kepada orang-orang yang "menginginkan".
Sepenuhnya saya bukanlah seorang kolektor di Koperasi tersebut. Saya hanyalah orang yang sesekali "dipakai" untuk "mengeksekusi" Nasabah koperasi jika tak ada Petugas yang siap pakai ketika dibutuhkan. Saat itu koperasi yang saya tempati bekerja menggunakan jasa Polisi dan Tentara, bahkan Polisi Militer sebagai Kolektor.
Beberapakali "menyegel" rumah yang dihuni "Nasabah Menunggak" bukanlah hal yang berat untuk saya waktu itu. Bahkan jika ada yang dengan lantang bermaksud menantang saya untuk "Adu Jotos", Saya terkadang balik menantang. Itu sudah tugas saya menurutku. Tidak terpikir jauh mengenai ajal waktu itu. :)
Terkadang saya juga harus membawa pulang motor Nasabah yang sudah tidak bisa menyelesaikan utang kreditnya. Mobil juga terkadang saya "bungkus" paksa dan kubawa pulang (dengan sopir bantu pastinya).
Kemudian setelah masa perkuliahan saya usaikan dan statusku bukan lagi seorang Mahasiswa, profesi menjadi seorang Kolektor ternyata berlanjut. Saya menjadi bagian dari salah satu BUMN yang dimimpikan banyak temanku. Sebenarnya masih tidak sepenuhnya seorang Kolektor, karena tidak sepadat ketika di Koperasi dulu. Dan masih tidak sepenuhnya Penetap di tempat itu.
Di tempat baru ini, saya semakin banyak menemukan warna-warni kehidupan manusia. Semakin sombong juga saya sekarang. Angkuhku juga semakin besar. Terkadang saya seakan mengangkat genggaman ketika harus berhadapan dengan seorang yang lebih angkuh terhadapku. Kusadari itu sebenarnya diluar kewajaran seorang saya yang dipekerjakan di tempat semegah itu.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya saya tiba di satu hari (kemarin) dimana saya harus betul-betul kembali menjadi seorang Kolektor. Kuuji sendiri nyaliku dalam hati. Eksekusi hari ini bukanlah eksekusi yang mudah menurutku. Eksekusi seperti ini tak pernah kubayangkan begitu berat untuk kulakukan. Memang belum pernah kulakukan.
Eksekusi ini harus memisahkan seorang anak dari salah satu kesenangannya. Eksekusi ini harus membuat seorang janda miskin kehilangan beberapa jam istirahatnya yang santai. Eksekusi kali ini harus menjauhkan satu keluarga dari kebiasaan berkumpul mereka ketika malam sudah tiba. Meskipun sebenarnya hanyalah kebiasaan yang benar-benar biasa.
Pekerjaan menyegel rumah dan membuat orangnya "malu" bukanlah hal yang sulit untukku. Karena orang-orang yang rumahnya kusegel bukanlah orang yang tidak memiliki uang, hanya saja mereka tidak peduli terhadap utangnya. Tapi ternyata, mengangkat sebuah televisi berukuran 21 inch dari dalam sebuah rumah yang sederhana ternyata lebih berat daripada mengangkat sebuah rumah megah yang tertuang dalam sebuah sertifikat. Satu hal sulit yang pernah kulakukan.
"Sebuah banyangan yang sulit kuhapuskan, sampai malam menuangnya dalam sebuah curahan-hati. Terbuka kumeminta maaf pada Ibu Hasniar yang Televisinya kubawa pulang"
_____________________________________________________
Langganan:
Postingan (Atom)
Dewasa
Waktu berjalan cepat, di usia ini dewasa bukan keinginan, dia kewajiban, tak bisa dihindari.. tak bisa dipungkiri, ini akan dilewati, apapun...
-
Ketika halaman lama kubuka, betul disitu ada kenangan.Ya jelas tersenyum sendiri, itu karena rindu yang membatu, rindu yang dipaksa diam, o...
-
Salam Satu Jiwa!!! Pulau yang tidak berpenghuni. Berukuran kecil. Dan Indah. Itu sebagian gambaran ketika mendapat ajakan untuk melakukan pe...
-
Salam satu Jiwa!!! Apa kabar kampungku? Begitulah sapaku dalam hati ketika berhela sejenak sesaat setelah tiba sore kemarin (22/04/11). Perj...