Tampilkan postingan dengan label Tobea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tobea. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Pantai di Desa To'bia

Salam satu Jiwa!!!
Apa kabar kampungku?
Begitulah sapaku dalam hati ketika berhela sejenak sesaat setelah tiba sore kemarin (22/04/11). Perjalanan yang kumulai pada sekitar pukul 6 pagi waktu Makassar, akhirnya berakhir mulus pada pukul 02.39 waktu kampungku.

Tobea, adalah nama kampungku. Kampung yang tidak begitu pasti kuketahui kisahnya. Sepintas yang masih kuingat tentang kampungku adalah dulunya kampung ini hanya dihuni oleh satu keluarga. Itulah nenek (tetua) dari kampungku. Ketika menulis postingan ini, saya juga lupa nama Si Nenek. Tapi, mungkin dipostingan yang lain akan saya ceritakan siapa dia (menunggu cerita dari yang tua).

Tobea merupakan perkampungan yang memiliki nuansa alam yang berair dan bertanah. Di perkampungan ini ada Pantai dengan laut yang luasnya sepanjang mata memandang, ada sungai yang mengawal sepanjang perkampungan, ada persawahan di beberapa panjang jalan, ada beberapa perkebunan yang masih asli sejak "direnovasi" dari hutan menjadi kebun, dan juga masih ada beberapa kehidupan "sisa-sisa" penjajahan perang.

Tobea memiliki pantai yang terletak di Teluk Bone dan mengelilingi ujung perkampungan. Di kampung Tobea, ada beberapa potong pantai yang dinamakan berbeda-beda oleh warga. Sebelah Selatan Pantainya dinamakan Bone Pance'. Di sebelah Timur, pantainya dinamakan Bone Jambong, di sebelah Utara pantainya terbagi menjadi beberapa bagian, salah-satu yang masih saya ingat adalah Pantai Lappe'.

Pemberian nama untuk beberapa bagian pantai ini (menurut cerita) didasarkan atas "tampilan" dari masing-masing pantai dan dinamakan dengan menggunakan Bahasa Tae' (Bahasa Dasar Masyarakat Luwu).

1. Pantai Bone Pance'
Dari Bahasa Tae', kata "Bone" bisa diartikan Pasir. Sedangkan kata Pance' bisa diterjemahkan menjadi pendek. Dari kata dasar pendek, kemudian kata ini diartikan sebagai "rendah". Pantai ini memiliki tumpukan pasir yang lebih rendah dari bagian pantai yang lain, sehingga dinamakan Pantai Bone Pance'. Sampai hari ini, pantai Bone Pance' adalah Pantai yang hampir setiap hari ramai dikunjungi wisatawan lokal. Baik dari luar Kampung Tobea maupun dari Tobea sendiri. Yang menarik dari pantai ini adalah lapangan pasirnya yang luas ketika air sedang surut dan ombak yang tinggi ketika air pasang. Dan juga pantai ini mudah di akses karena hanya berjarak kurang lebih satu kilometer dari ujung perkampungan. Untuk yang memiliki kendaraan roda dua, bisa memarkir kendaraannya tepat di bibir pantai.

Tapi, beberapa tahun terakhir proses abrasi di Pantai ini begitu cepat. Bahkan data terakhir (dari cerita tetua), dulunya pantai ini sangat jauh dari ujung perkampungan dengan pohon bakau yang menutup pandangan. Jika diperkirakan, selama 20 puluh tahun terakhir pantai ini tergerus sepanjang kurang lebih 30 kilometer. Sekarang di pantai ini hanya tersisa beberapa pohon bakau tua saja. #waowww

2. Pantai Bone Jambong
Dalam bahasa Tae', "jambong" berarti tinggi. Pantai ini dinamakan Bone Jambong karena dari batasnya yang berpasangan dengan Pantai Bone Pance', terlihat lebih tinggi dari dataran pasir Bone Pance'. Di pantai ini tumbuh berbagai jenis pohon.

Pantai ini jarang dikunjungi wisatawan karena akses menuju Pantai ini tidak begitu bagus. Hanya melalui pematang empang penduduk yang ukuran terluasnya hanya dua meter. Selain jalan menuju pantai ini kurang bagus, lokasi pantai ini juga tergolong agak jauh karena berdada di ujung timur pulau sulawesi-selatan (teluk Bone).

Pada awal tahun 2000-an, pernah terdampar bangkai ikan Paus di pantai ini. Kejadian ini terdengar "heboh" sampai keluar Perkampungan. Kejadian ini "mengundang" khalayak dari berbagai daerah, bahkan ada beberapa warga Kota Makassar yang datang hanya untuk melihat bangkai ikan ini.

3. Pantai Lappe'
Untuk potongan ketiga ini, saya tidak begitu mengerti mengapa dinamakan pantai Lappe', karena selama belajar bahasa Tae' saya belum begitu paham apa arti dari kata Lappe'.

Gambaran dari pantai ini adalah pantai ini merupakan pantai yang dijadikan perkampungan oleh beberapa warga Kampung Tobea dan beberapa warga pendatang yang datang dari beberapa daerah antara lain : Kabupaten maros dan kabupaten Pangkep. Pantai ini memiliki potensi ikan yang beraneka karena memiliki pasir halus bercampur lumpur. Sepanjang pantai ini juga masih terjaga pepohonan bakaunya. Inilah yang membuat warga sekitar dan warga pendatang memilih tinggal lebih rapat lagi ke Pantai Lappe'. Penghasilan dari menangkap ikan di Pantai ini dianggap cukup banyak oleh warga sekitar.

Demikianlah gambaran singkat mengenai kampungku. Tepatnya mengenai pantai yang ada di kampungku. Untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas, silahkan datang langsung ke kampungku. Kampung Tobea berada di Kabupaten Luwu, Kecamatan Ponrang Selatan, Desa Tobia.

___________________________________________________

Sabtu, 12 Maret 2011

Bermain dengan Kamera Saku [I]

Salam Satu Jiwa!!!
Di postingan kali ini saya ingin berbagi melalui beberapa gambar yang saya ambil menggunakan Kamera Digital yang berukuran saku. Ide ini muncul karena ada beberapa PinkReader yang terkadang malu untuk mengeluarkan kamera saku yang dia kantongi ketika sedang bepergian dengan tujuan untuk mengabadikan beberapa momen bersama teman-temannya, sedang teman-temannya mayoritas menggunakan kamera berukuran besar. Memang beberapa tahun terakhir ini, pemakaian "Kamera Besar" sedang menjadi tren di kalangan anak muda dan orang tua. Pada satu momen terasa tidak akan lengkap jika di bahu tidak tergantung sebuah kamera. Begitulah yang kurang-lebih terjadi sekarang.

Berikut beberapa foto yang mungkin bisa dibandingkan dengan hasil foto yang diambil dengan menggunakan Kamera Besar [Sok]. Foto-foto berikut diambil dengan menggunakan Kamera Digital Sony Steady Shoot W320. Diambil dari beberapa momen yang terencana dan tidak terencana.

1. Beterbangan


2. Silau Terjepit


3. Perspektif Satu


4. Terbenam Disitu


5.Tangan Bunga


6. Persfective Trees


Untuk kekurangan pada foto-foto di atas jelas banyak. Karena itulah Kamera Saku!
Terima Kasih! Silahkan dipuji... #hehehee :)

___________________________________________________

Jumat, 04 Maret 2011

Mengingat Ledakan

Lelaki itu berdiri mendoakan dirinya sendiri
Kekuatannya dialihkan untuk mencoba tidak galau
Atas kebimbangan dua pilihan kematian :
segera saja matinya atau matinya segera saja

Tangan yang dia tadahkan keudian dia genggam
Dilemparkan keatas langit lalu terik :
"Allahu Akbar!!!"
Empat kali rupanya
"Allahu Akbar!!!"
"Allahu Akbar!!!"
"Allahu Akbar!!!"
Disambut lagi sama orang-orang di depannya

Setelah itu ledakan-ledakanlalu terjadi
Tergeletak,
Bukan hanya dia.

Jumat, 04 Februari 2011

Catur Masa Lalu

Salam Satu Jiwa !!!
Baru saja saya membaca milis dari Komunitas Blogger Makassar. Salah satu permasalahan yang "dipertentangkan" adalah permainan catur. Setelah membaca isi trit sampai habis, pikiran saya kembali mengingat satu peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. Tepatnya ketika saya masih berada di bangku kelas dua SMP (Tsanawiyah tepatnya). Akhir kelas dua.

Pada waktu itu, di sekolah sedang terjadi demam catur di antara saya dan teman-teman. Berbekal dasar permainan catur yang minim, saya dan teman-teman saling beradu memainkan pasukan-pasukan catur yang saya punya. Permainan yang diawali dengan dua pion jalan sekaligus masih kami mainkan waktu itu. Entahlah saat ini…

Semakin hari permainan catur semakin menyita waktu yang saya punya. Tidak memperdulikan waktu belajar, saya dan seorang teman masih juga bermain catur. Apalagi kalau yang mengajar adalah Kakak saya sendiri (waktu SMP saya diajar sama beberapa orang kakak sendiri). Semakin tidak peduli saya dengan pelajaran.

Masih pada waktu itu, kemampuan bermain caturku pun semakin berkembang. Papan catur yang kupunya sudah dipenuhi coretan karena terlalu sering dipakai. Saya bagaikan Juara Catur yang tak terkalahkan. Beberapa teman bahkan tak mau lagi bermain denganku karena sudah tahu kalau tak mungkin mengalahkanku. "Kehebatan" ini bahkan ditantang oleh seorang guruku, dan akhirnya sama ketika saya bermain dengan temanku sendiri. AKULAH JUARANYA!!!

Merasa kehebatanku tak ada tandingannya dan perlu saya ujikan pada "lawan" saya yang baru, akhirnya saya memutuskan mencari aplikasi komputer yang berhubungan dengan catur. Berhubungan waktu itu di kampung saya belum ada koneksi internet (tapi sudah punya komputer) saya mencari aplikasi catur dari beberapa keluarga yang ada (di kota). Akhirnya seorang kerabat mengirimkan saya catur yang saya cari dalam bentuk Disket 3 1/4. Hari ini saya lupa nama aplikasinya. Yang saya ingat, sejak memiliki aplikasi tersebut saya hanya meninggalkan rumah ketika harus ke sekolah. Dan akhirnya dalam waktu dua hari saya merasakan bosan karena terlalu sering mengalahkan "Computer Master" --nama lawan saya waktu itu--

Merasa kalau di luar sana masih ada yang lebih hebat, akhirnya saya memaksa orang tua saya (maafkan saya mama' dan bapa') untuk mencarikan yang lebih hebat. Betapa hebatnya saya waktu itu. Tapi permintaan ini tidak dikabulkan. Mungkin karena memang Bapa' dan mama' tidak begitu tahu soal catur. Beberapa hari setelah itu saya tetap bermain catur. Sesekali melawan teman-teman. Sesekali bermain dengan Computer Master.

Dan akhirnya suatu ketika seorang sepupuku yang juga senang dengan dunia catur membawa sebuah papan catur elektrik. Papan catur tersebut sengaja dibawa dan kemudian diberikan kepada saya. Papan catur tersebut saya kenal dengan nama KASPAROV (yang ternyata setelah SMA saya baru dapat gambaran siapa itu Kasparov). Papan catur ini terbuat dari (sepertinya) tembaga yang terhubung ke tenaga listrik via battery. Warnyanya hitam-putih dengan dua tombol di salah satu sisinya dan tiga lampu (merah, kuning, hijau) di sisinya yang lain. Dengan seorang diri kita bisa memainkan papan ini. Dengan anggapan kita sedang melawan seorang Kasparov. Hanya saja kita harus membantu Kasparov untuk mengangkat dan memindahkan pasukannya ke tempat yang dia sebutkan. Mesin ini membuat saya merasakan adanya lawan baru yang sangat sulit untuk saya kalahkan. Bahkan ketika belum tahu fungsi dari lampu merah di sisi papan, saya mencoba "mencurangi" Kasparov. Kuletakkan salah satu pasukannya di kotak yang tidak sesuai dengan instruksinya. Dan "BERTERIAKLAH" Si Kasparov. Saya lupa isi teriakannya, tapi intinya saya dinyatakan CURANG!

Hanya dalam waktu 3 hari, Kasparov mampu membuat kepala saya berisi pergerakan catur yang selalu saya lakukan. Bayangan catur selalu menghantui kepala saya. Bahkan sampai tidak bisa tidur. Di awal kelas 3 SMP, saya merasakan kestresan saya terhadap catur. Setiap berbaring akan selalu terlihat bayangan catur di atas kepala. Setiap menutup mata, bayangan catur bahkan tidak bisa hilang. Hal ini berdampak pada menurunnya berat badanku karena terlalu sering sakit dalam kurun waktu 2 bulan. Persiapan Ujian Nasional bahkan hampir saya abaikan. Kemanapun hampir terlihat bayangan papan catur di atas kepala.

Melihat efek buruk catur terhadap saya, akhirnya mama' mengingatkan saya untuk berhenti bermain catur. Saran itu sempat saya tolak, sampai aplikasi catur di komputerku dihapus Kakak dan Kasparovku dikembalikan ke sepupuku. Sejak saat itu saya sedikit menyadarkan diri untuk tidak bermain catur sampai pikiranku "normal" lagi. Hal ini kemudian berhasil saya terapkan. Mama' juga membantu dengan memberikan kesibukan lain, termasuk memperbanyak membaca buku. Kebiasan baruku ternyata membuatku benar-benar meninggalkan catur. Selain karena memang berusaha untuk tidak bermain catur, perasaan trauma ternyata juga menjadi penghambat saya untuk kembali bermain catur. Sampai saya SMA, setiap kali melihat papan catur saya selalu merasa yang terhebat dalam dunia catur. Tapi, ternyata sejak SMA pula saya sudah tidak bisa lagi bermain catur. Seakan Saya yang SMP bukanlah Saya yang SMA untuk dunia catur. Tak sering lagi saya menjuarai permainan caturku (yang memang sudah jarang saya mainkan). Dan hari ini, ketika terbuka untuk menceritakan ini di blog, saya merasakan bahwa saya harus mencari lagi Kasparovku. Ada yang tahu Kasparovku ada dimana??,,


Minggu, 23 Januari 2011

Senja Dipelukan Tuhan (II)


Dikala Senja hanyalah kenangan
Kemana hati ini harus bermuara?
Di kepala sendu mendayu kerinduan
Sejalan mata yang mulai berkaca

Heningku lemah di persimpangan
Dari atas ke bawah kulihat laut
Senja sore perlahan turun,
Tapi itu bukan kau!
Dia bisa saja hadir di setiap sore
Adalah kamu melihat itu

Ini sore,
Dimana senja pernah berlalu
Membawa Shalatnya yang lebih
Bersama Dzikirnya di akhir hayat
Lewati jalan yang penuh sabar

Ini sore,
Senja laut mulai menghilang
Dari batas air dan kehidupan
Di antara pandang mata yang kemilau

Ini sore,
Aku berdiri mengingatmu
Tak berharap mengenangmu saat ini
Biarkan saja aku sejenak

Kepada Tuhan :
Puaskah Kau?!

Kamis, 30 Desember 2010

Peran operator dalam memajukan pendidikan dan perekonomian di daerah pinggiran kota dan pedalaman


Salam Satu Jiwa!!!
Terlahir di pelosok terdalam di tepian teluk bone merupakan satu "kesedihan" tersendiri. Saya terlahir seperti gambaran tersebut. Kampungku namanya Tobea. Tidak susah untuk menemukan daearah ini jika kita berada di seputaran Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Tobea berada di ujung Lorong terpanjang di daerah yang mengarah ke perbatasan laut Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. dikenal dengan nama Teluk Bone --GoogleMaps tai lokasinya--

(Seingat saya)waktu kecil Kampungku ini sepi, sunyi, tidak seberapa banyak rumah-rumah yang bertengger di tepian jalan. hanya beberapa saja. Itu karena kampungku--waktu itu-- belum "terjamah" sama yang namanya teknologi besar meskipun telah banyak melahirkan orang-orang sukses di luar Tobea.

Sekitar tahun 2003 (kalau tidak salah)di kampungku didirikan sebuah menara tinggi yang terbuat dari besi --Bercerita gaya anak Kampung [tapi tidak kampungan]--. Menara ini terdiri dari beberapa potong bagian yang berbentuk "Makin keatas makin Lancip". Tingginya hampir mencapai 100 meter [kurang tau berapa panjangnya.

Menara ini kemudian kami sebut "TOWER" [baca : tawer]. Berdiri menjulang di tepian sungai di atas lokasi berukuran kurang lebih 25 meter kali 25 meter. Lokasi [tanah] ini juga berada di ujung jalan kampung dan tepian "Empang". tepat berdiri di sudut-sudut perempatan empang-ujung jalan-sungai-dan rumah warga.

Belakangan [setelah jadi] kami (warga kampung, selain Pemuka Kampung) akhirnya tahu kalau tawer tersebut adalah tawer yang didirikan untuk lebih "memajukan" masyarakat Tobea. Kemudian tawer ini kami kenal sebagai tawer "Pemancar". Beberapan anak kampung malah menyebutnya kemudian sebagai "pemancar" bukan lagi tawer.

Dan sampai hari ini, tawer tersebut masih berdiri di perempatan yang sama sejak 2003 [masih kalau tidak sala]. Pemancar ini membawa perubahan yang lumayan. Mulai mengenal yang namanya hape. Beberapa anak muda kemudian memiliki hape sendiri. beberapa loket penjual pulsa kemudian berjejer di depan rumah orang-orang kampung. dan ketika Hape para pemuda dinyalakan, akan tertulis "XL" di layarnya. Kemudian di setiap loket-loket hape dan pulsa bertulis "Jual Pulsa XL" dengan logo sederhanya. Dan saat ini dengan XL saya bisa berinternet dari Kampungku, Tobea.

Dengan masuknya XL kekampungku, anak muda di kampungku bisa mendapat Ilmu tambahan memakai Hape [heheheeee], bisa berkomunikasi dengan keluarga yang jauh dan sedikit tahu yang namanya Teknologi.



Di bawah ini Galeri Foto untuk XL Menjangkau KAMPUNG!!!

1. Perlu Sedikit Diperhatikan Serius untuk melihat Pemancar Sinyal XL di Kampungku dari Pantai Bone Jambong [Teluk Bone].


2. Foto ini diambil dari atas pematang Empang



3. yang ini diambil dari Ujung Jalan Tobea [Kampung Bone Jambong]



4. Foto yang terakhir ini sedikit saya Style-kan biar bisa dapat poin plus untuk dapat Hadiah, hahahai.... Diambil dari bawah menara, jarak 5 meter dari pagar menara. Model : Anak Kecil yang kebetulan lewat.





Dewasa

Waktu berjalan cepat, di usia ini dewasa bukan keinginan, dia kewajiban, tak bisa dihindari.. tak bisa dipungkiri, ini akan dilewati, apapun...